Agar Ide Tak Dicuri

Saya surprise sekaligus menyesal karena seorang pakar manajemen di sebuah media mengutarakan ide yang persis sama dengan ide yang pernah saya tulis namun belum terpublikasi. Namun saya akan lebih menyesal lagi, jika ide atau gagasan yang disimpan dalam hati itu, mampu memberikan perubahan dan manfaat besar demi kepentingan umum.

Di era globalisasi, dengan teknologi dan informasi yang menjadi senjata utama, arus informasi datang silih berganti dengan begitu cepat. Informasi yang berupa Ide-ide atau gagasan-gagasan masyarakat itu dengan cepat tersebar diberbagai media. Mulai dari social media seperti blog, Facebook, maupun Twitter sampai dengan media cetak maupun online. Dengan mengetikkan satu kata saja, dalam sekejap mata, ribuan  informasi yang ingin kita ketahui muncul memberikan jawaban atas segala pertanyaan. Maka, disadari atau tidak ide-ide atau gagasan-gagasan seseorang bisa dengan cepat “dicuri” kalau hanya berdiam diri dan menyimpan ide-ide itu dalam hati dan pikiran saja. Lantas, apa yang harus kita lakukan agar ide tak dicuri?

Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, “Kau, Nak,paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kalu lebih dari siapa pun? Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari…Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.  Pesan dari Pramoedya Ananta Toer adalah sebuah pesan sederhana agar ide-ide atau gagasan kita tidak hilang melalui langkah sederhana yaitu menulis. 

Apa yang harus kita tulis?

Mengutip apa yang diungkapkan penulis Andreas Harefa, “Pikiran, apa yang Anda pikirkan, tulislah. Perasaan, apa yang Anda rasakan, tulislah. Pendengaran, apa yang Anda dengarkan, tulislah. Penglihatan, apa yang Anda lihat, tulislah. Bacaan, apa yang Anda baca, tulislah. Keinginan, apa yang Anda inginkan, tulislah. Apa yang membuat Anda gembira, menangis, tersenyum, tertawa, berduka, bahagia, kecewa, sakit hati, bersyukur, dan sebagainya, tulislah”. Jadi, mulailah menulis apa saja, terutama yang menarik minat Anda.

Bagi saya, motivasi menulis bisa dimulai dari catatan-catatan kecil di buku agenda, sampai dengan menulis artikel di blog pribadi, semacam WordPress, Blogspot, maupun blog komunitas seperti Kompasiana. Tidak menutup kemungkinan juga  untuk bisa menulis di media massa. Namun, tentu saja keharusan menulis di media massa bukanlah tujuan mutlak yang harus kita capai kalau mau menulis. Masih banyak jalan yang bisa ditempuh agar tulisan kita diketahui dan tentunya memberi manfaat bagi masyarakat dan bangsa kita.

Membangun Mentalitas Penemu

Pernahkah Anda mendengar nama  Bette Graham?  Dia adalah seorang penemu  cairan pemutih yang digunakan untuk mengoreksi tulisan. Penemuan itu,  diawali dengan hal yang sangat sederhana yaitu setiap kali ia salah mengetik, ia selalu merasa kesulitan.  Maka, Bette Graham, yang pernah menjadi pelukis namun gagal yang kini menadi sekretaris, menggunakan kemampuan mengecatnya untuk menutup kesalahan pengetikan di mesin tiknya. Pada 1980, perusahaan pembuat cairan putih untuk mengkoreksi kesalahan itu akhirnya terjual lebih dari US$47 juta. Dari penemuan sederhana itu memberi pesan bahwa, menjadi seorang penemu, tidak harus menghabiskan hidup di ruang laboratorium, tetapi bisa melalui permasalahan-permasalahan hidup sehari-hari dan menganalisis pengalamannya dan menemukan solusi terbaik untuk mengatasinya. Tidak mudah menyerah, dan selalu melihat permasalahan sebagai tantangan untuk memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik.

Dalam konteks menulis, maka diharapkan agar kita bisa berpikir kritis dan peka terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar kita, kemudian mecari solusi melalui ide-ide atau gagasan yang dituangkan melalui tulisan (artikel). Dengan kata lain, menumbuhkan budaya menulis sejak dini merupakan langkah awal untuk mencari solusi permasalahan bangsa, ditengah rendahnya produktivitas peneliti Indonesia untuk menulis artikel yang menurut data baru 0,85 artikel per sejuta penduduk. Bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 21,3 per sejuta penduduk. Di Malaysia, rata-rata per tahun terbit sekitar 6.000 sampai 7.000 judul buku baru. Sementara di Indonesia baru terbit sekitar 4.000 sampai 5.000 judul buku baru. Hal tersebut memang tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih besar 10 kali lipat dari jumlah penduduk Malaysia.

Akhir kata, menulislah sekarang sebelum terlambat. Dengan menulis, tidak ada lagi ada kata  menyesal karena ide-ide atau gagasan-gagasan kita tidak “dicuri” lagi.  Yang ada adalah rasa bangga karena ide-ide itu mampu memberi perubahan positif bagi masyarakat dan bangsa.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s